Angga Purwana: Ini Bukti Nyata AI Bikin Gen Z Sulit Cari Kerja - Purwana Tutorial Website App Games untuk Pemula
    Trik Kilat Kuasai Media Software Aplikasi, Website, Game, & Multimedia untuk Pemula...

Post Top Ad

Kamis, 28 Agustus 2025

Angga Purwana: Ini Bukti Nyata AI Bikin Gen Z Sulit Cari Kerja

Antara Harapan dan Kecemasan ~ Memasuki dunia kerja adalah fase hidup yang penuh dengan campuran harapan sekaligus kecemasan. Bagi Gen Z (kelahiran 1997–2012), perjalanan ini semakin menegangkan karena harus bersaing bukan hanya dengan sesama pencari kerja, melainkan juga dengan mesin pintar yang disebut kecerdasan buatan (AI). 🎉 We Just Launched ~ RetroGames for Windows!


Angga Purwana ~ AI Bikin Gen Z Susah Cari Kerja



Sejak kemunculan ChatGPT pada 2022, gelombang perubahan dunia kerja semakin terasa nyata. Berbagai profesi yang sebelumnya dianggap aman kini diguncang oleh teknologi yang mampu menulis, menganalisis data, membuat kode, bahkan memberikan layanan pelanggan dalam hitungan detik.


Di satu sisi, AI membuka peluang baru. Namun di sisi lain, ia menutup pintu bagi banyak posisi entry-level yang seharusnya menjadi jalur masuk Gen Z ke dunia profesional. Studi terbaru dari Stanford University memberikan gambaran jelas betapa besar dampak ini terhadap para pekerja muda.


Data dan Fakta dari Studi Stanford

Penelitian yang dilakukan oleh Stanford Digital Economy Lab—melibatkan Erik Brynjolfsson, Ruyu Chen, dan Bharat Chanda—menjadi salah satu analisis paling komprehensif tentang dampak AI terhadap pasar kerja.


Beberapa temuan utama antara lain:


  • Lowongan kerja entry-level yang terpapar AI menurun 13%.
          Angka ini paling terasa bagi usia 22–25 tahun yang baru merintis karier.
  • Software engineer pemula paling terpukul.
          Lowongan pengembang software entry-level turun hampir 20% sejak akhir 2022.
  • Layanan pelanggan ikut tergerus.
          Banyak perusahaan kini menggunakan chatbot atau sistem otomatis yang mampu menangani pertanyaan pelanggan dengan biaya lebih murah.
  • Pekerjaan non-teknis lebih stabil.

          Peran seperti asisten perawat atau pekerjaan manual yang sulit diotomatisasi tetap tumbuh atau setidaknya tidak terdampak signifikan.


Laporan ini menyoroti bahwa bidang dengan tugas yang bisa sepenuhnya digantikan AI adalah yang paling berisiko, sementara bidang di mana AI hanya berfungsi sebagai alat bantu justru mengalami peningkatan permintaan tenaga kerja.


Bidang Kerja yang Paling Terdampak AI

Fenomena ini bisa dilihat lebih jelas dengan mengelompokkan pekerjaan berdasarkan tingkat “kerentanannya” terhadap AI:


  1. Bidang Sangat Terpapar (High Exposure):
    • Pengembangan software tingkat dasar
    • Customer service online
    • Data entry dan pekerjaan administratif
  2. Bidang Terpapar Moderat (Medium Exposure):
    • Analisis bisnis
    • Marketing digital
    • Desain grafis (AI image generator sudah mulai memangkas kebutuhan entry-level)
  3. Bidang Minim Terpapar (Low Exposure):
    • Perawatan kesehatan (nurse assistant, caregiver)
    • Pekerjaan konstruksi
    • Profesi dengan interaksi manusia tinggi (konselor, pekerja sosial)


Perbedaan ini menegaskan bahwa pekerjaan berbasis kognitif tingkat awal kini lebih rentan dibanding pekerjaan fisik atau pekerjaan yang mengandalkan empati.


Kontras antara Gen Z dan Generasi Senior

Yang menarik, penurunan ini lebih banyak menghantam pekerja muda ketimbang pekerja senior. Mengapa demikian?

  • Gen Z baru masuk pasar kerja. Mereka umumnya memulai dengan posisi entry-level yang justru paling mudah digantikan AI.
  • Generasi lebih tua memiliki pengalaman. AI mungkin bisa menulis kode, tapi AI tidak memiliki intuisi bisnis, pemahaman tim, atau keterampilan manajerial yang diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun.
  • Perusahaan lebih percaya pada yang berpengalaman. Dalam kondisi ketidakpastian, perusahaan lebih memilih tenaga kerja berpengalaman daripada harus melatih talenta baru dari nol.


Inilah alasan mengapa jumlah lowongan untuk pekerja berpengalaman masih meningkat, bahkan di sektor yang sama.


Dampak pada Pendidikan Tinggi dan Tren Karier

Efek domino dari fenomena ini juga terlihat di dunia pendidikan. Jurusan Ilmu Komputer yang semula menjadi primadona kini mulai stagnan. Antara 2005 hingga 2023, pendaftaran jurusan ini melonjak empat kali lipat di Amerika Serikat. Namun tahun ini pertumbuhan hanya 0,2%—nyaris berhenti.


Hal ini menandakan bahwa generasi muda mulai mempertanyakan:

“Apakah belajar coding masih menjanjikan, jika coding dasar saja bisa dilakukan AI dalam hitungan detik?”


Fenomena serupa mungkin akan menyebar ke negara lain, termasuk Indonesia. Mahasiswa kini mulai mencari jurusan atau keterampilan yang lebih tahan terhadap guncangan AI, seperti psikologi, kesehatan, seni kreatif, atau bidang interdisipliner yang menggabungkan teknologi dengan ilmu sosial.


Sejarah Gangguan Teknologi dan Pola yang Berulang

Jika kita mundur ke belakang, sejarah teknologi selalu menghadirkan pola yang sama:

  • Munculnya mesin uap di era Revolusi Industri menghilangkan banyak pekerjaan manual, namun menciptakan lapangan kerja di pabrik.
  • Komputerisasi tahun 80–90an menggantikan banyak pekerjaan administratif, tetapi melahirkan profesi baru di bidang IT.
  • Internet tahun 2000an menutup ribuan toko fisik, tetapi membuka peluang e-commerce dan digital marketing.


Dengan demikian, AI bisa dilihat sebagai bab terbaru dalam evolusi ini. Pertanyaan yang harus dijawab adalah: pekerjaan baru apa yang akan lahir, dan siapa yang bisa memanfaatkannya?


Analisis Perspektif Angga Purwana

Sebagai Senior Software Engineer, Angga Purwana memberikan pandangan yang lebih tajam terkait fenomena ini:


“Sebagai praktisi teknologi, saya melihat fenomena ini bukan sekadar soal AI mengambil alih pekerjaan. Masalah utamanya adalah kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki Gen Z dengan kebutuhan industri yang berubah sangat cepat. AI memang bisa menggantikan tugas-tugas teknis dasar, tapi justru di situlah peluang baru terbuka: mereka yang mampu mengombinasikan kreativitas, pemahaman bisnis, serta kemampuan beradaptasi akan tetap relevan. Tantangan Gen Z adalah bertransformasi dari sekadar 'pekerja teknis' menjadi 'pemikir strategis' yang bisa bekerja berdampingan dengan AI, bukan sekadar bersaing dengannya.”


Pernyataan ini menekankan bahwa adaptabilitas adalah kunci. AI bukan hanya musuh, tapi juga bisa jadi alat untuk mempercepat pembelajaran, meningkatkan produktivitas, dan bahkan membuka jalur karier baru.


Peluang Baru: Bagaimana Gen Z Bisa Beradaptasi

Meski situasi tampak suram, ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan Gen Z untuk tetap relevan:

  • Menguasai Keterampilan Humanis
Empati, komunikasi, kepemimpinan, dan kreativitas adalah hal yang sulit ditiru AI.
  • Menjadi AI-Savvy
Alih-alih takut, Gen Z perlu belajar menggunakan AI sebagai co-pilot. Misalnya, programmer yang menggunakan AI untuk debugging bisa bekerja lebih cepat daripada yang tidak.
  • Membangun Personal Branding
Dunia kerja modern menghargai keunikan. Gen Z dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menunjukkan portofolio, pemikiran, dan inovasi mereka.
  • Mengejar Karier Hybrid
Gabungan antara teknologi dengan bidang lain seperti kesehatan, pendidikan, atau seni bisa menjadi jalur karier masa depan.
  • Belajar Sepanjang Hayat (Lifelong Learning)

Dunia kerja tak lagi mengenal “ilmu cukup sekali”. Generasi muda harus siap belajar ulang setiap kali teknologi berubah.


Jalan Panjang Gen Z dalam Dunia Kerja Berbasis AI

AI memang menimbulkan tantangan besar, terutama bagi Gen Z yang sedang mencari pijakan pertama mereka di dunia kerja. Data dari Stanford menegaskan realitas pahit: lowongan kerja entry-level yang dulu jadi pintu masuk kini makin sempit.


Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap gelombang teknologi tidak hanya mematikan pekerjaan lama, tetapi juga menciptakan pekerjaan baru. Kuncinya ada pada keberanian untuk beradaptasi dan melihat AI bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai mitra.


Sebagaimana disampaikan Angga Purwana, masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling pintar secara teknis, melainkan oleh siapa yang paling cepat beradaptasi dengan perubahan.


Bagi Gen Z, pesan ini sangat jelas: AI memang membuat mencari kerja lebih sulit, tapi juga membuka peluang yang tak terbatas bagi mereka yang siap berevolusi.

Post Top Ad